Jumat, 25 April 2014

Panorama Film Eropa

                Indonesia sering sekali diberi suguhan film-film dari berbagai genre yang pada umumnya berasal dari negara Amerika atau Inggris. Kali ini, bukan hanya Inggris, salah satu negara di Eropa, yang berhasil memukau saya dengan film-filmnya. Beberapa orang mungkin sudah tidak asing dengan annual event Europe On Screen atau Festival Film Eropa yang digelar di berbagai kota di Indonesia. Berikut akan saya share pengalaman saya mengenai festival ini.

                Matahari mulai hanyut ditelan cakrawala pada hari itu. Saya sudah bersiap-siap untuk pergi ke Goethe Haus bersama kakak saya, temannya, dan teman-teman saya juga. Malam itu, saya berencana untuk menonton film berjudul Kosmonauta yang berasal dari Italia.

                Jarak antara Goethe dengan rumah saya memang tidak sampai 5 kilometer namun saya pergi menggunakan taxi kesana. Sesampainya di Goethe, saya sangat antusias melihat orang-orang di sekeliling saya yang hendak menonton film Kosmonauta. Bukan hanya warga negara asing yang hadir ternyata, namun para penikmat film dari Indonesia juga banyak yang berdatangan.

                Sejak film dimulai hingga berakhir, saya jadi mulai tertarik dengan film-film Eropa lainnya. Dari kualitas plot atau alur ceritanya saja bagi saya memiliki makna yang sangat bagus. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk rajin berpartisipasi menghadiri acara ini di tahun-tahun selanjutnya.

                Salah satu personil The Beatles yang sangat saya kagumi adalah John Lennon. Ketika mendengar tentang sebuah film yang menceritakannya akan diputar di opening Europe On Screen di Epicentrum, saya segera mencari berbagai info dan ternyata teman kakak saya memberikan tiketnya.

                Bukan kali terakhir saya mengagumi atmosfir di Europe On Screen. Orang-orang disana ramah dan saya senang dengan sambutan yang disampaikan karena tidak terlalu panjang tapi padat dan jelas. Nowhere Boy, film yang berkisah tentang perjalanan karier John Lennon muda ini mulai menaungi pikiran-pikiran saya untuk memiliki sifat tidak mudah putus asa dan bekerja keras. Dengan soundtracks yang 50's, film ini membawa saya ke dimensi lain pada saat itu.

                Lagi-lagi dan lagi-lagi, saya menanti dengan sabar tahun berikutnya untuk menyaksikan film-film lain. Pada kesempatan waktu itu, saya menonton film Rust and Bone yang menjadi opening di Blitzmegaplex Grand Indonesia.

Film yang berkisah tentang perempuan yang kakinya harus diamputasi karena kecelakaan di sebuah seaworld ini begitu menyentuh pada scene-scene terakhirnya ketika teman pria nya mencoba menyelamatkan anaknya yang tenggelam di dalam kolam es bahkan hingga tangannya berdarah-darah. Film ini memberikan moral value untuk saya agar jangan pernah menyerah terhadap hal-hal yang berharga bagi kita. Film yang dibintangi Marion Cotillard ini sukses membuat saya menangis karena aktingnya.

Di Erasmus Huis, saya menghadiri closing EOS kali itu dan disajikan beberapa film pendek dari pemenang kompetisi short movie. Ada yang tentang dua orang berketerbatasan dan tentang maksud sticker yang ditempel di kaca mikrolet. Sementara itu, sebuah film yang diputarkan pada closing Europe On Screen pada kali itu mengangkat cerita mengenai sebuah lukisan legendaries yang direplika. Saya lupa judulnya apa, namun yang jelas, pemutaran film ini beberapa kali mengundang gelak tawa para penontonnya.

Bagaimana? Sangat tidak sabar untuk menanti Europe On Screen pada tahun ini, bukan? Begitulah pengalaman saya selama menyaksikan film-film di festival tersebut. Satu hal yang sangat saya sukai dari festival ini adalah bagaimana cara EU mengangkat film-film dari negara mereka dengan mengutamakan kualitas dari alur cerita yang sederhana, terlihat simple, namun memiliki arti tersendiri yang mendalam bagi para penontonnya.

Bagi para pecinta film, festival ini patut dihadiri dan anda pasti akan mengapresiasinya. Jadi, jangan lewatkan perhelatan akbar ini tanggal 2-11 Mei 2014 di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya!

For more information, visit: http://www.europeonscreen.org






Jumat, 22 November 2013

Pencegahan Peredaran Senjata Api Ilegal Semakin Sulit

Maraknya penembakan yang terjadi di lingkungan sekitar kita akhir-akhir ini membuktikan bahwa peredaran senjata api ilegal sudah semakin meluas kemana-mana. Senjata api kini sudah tidak hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, tapi bisa jatuh ke sembarang tangan. Dengan tertembaknya sejumlah aparat kepolisian, peluru menyasar, dan peritiwa penembakan lainnya, hal tersebut menjadi catatan bahwa pencegahan peredaran senjata api ilegal di Indonesia nampaknya semakin sulit. 

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menjelaskan, sulitnya memberantas perdagangan senjata api ilegal di antaranya karena panjangnya garis pantai Indonesia yang menyebabkan jalur laut atau pelabuhan tikus tidak bisa dikontrol. Jalur laut atau pelabuhan tikus merupakan pintu masuk senjata ilegal dari luar negeri.

Selain dari luar negeri, kata Rikwanto, senpi ilegal juga berasal dari daerah konflik, seperti Aceh, Poso, Papua, Maluku, dan Palu. Ketika di daerah konflik tersebut mulai muncul pertikaian yang berujung perkelahian, biasanya orang-orang disana menggunakan senjata api apabila sudah mencapai puncaknya. Hal tersebut menandakan bahwa pasti ada komunikasi antar para pemilik senpi ilegal untuk melindungi satu sama lain. Kemudian, para pemilik senpi akhirnya sulit disidak karena informasi sudah menyebar terlebih dahulu.

Penembakan menggunakan senpi yang ditujukan kepada aparat kepolisian memunculkan adanya indikasi keterlibatan dari para teroris atau eks teroris berupa penyelundupan. Dalam penyelundupan senpi, tentunya dibutuhkan profesionalisme untuk melakukan hal tersebut. Tangan-tangan teroris dan eks teroris kemungkinan sudah terlatih dengan kegiatan seperti ini.

Rikwanto menjelaskan selain ketiganya, disinyalir banyak pabrik rumahan yang membuat senpi rakitan di Indonesia. Senjata api buatan rumahan ini harganya cukup murah dan sangat menggiurkan.

Sementara itu, menurut Anggota Komisi Kepolisian Nasional, M Nasser, selama ini yang dipermasalahkan oleh aparat Kepolisian hanya peredaran senjata angin bertekanan rendah. Padahal, persoalan utamanya adalah penyelundupan senjata api perdagangan ilegal termasuk pembuatan senjata api rakitan. 


Kepolisian Indonesia harus terus berupaya mengawasi dan menindak peredaran senjata api ilegal melalui razia baik secara terbuka maupun tertutup yaitu di daerah-daerah yang ditengarai banyak beredar senjata api illegal. Kepolisian Indonesia juga harus menyelidiki pelaku yang mendalangi penyelundupan senpi berskala luas. Pihak masyarakat juga dihimbau untuk memiliki kemampuan bela diri agar berani melawan penjahat apabila mereka menggunakan senjata api dalam aksinya. Penjahat yang berhasil dilawan, bisa diinvestigasi darimana mendapatkan senpi itu. Jika pencegahan dengan cara-cara tersebut dilakukan dengan tegas demi menegakkan keamanan, angka peredaran senpi ilegal berpotensi akan turun. Dengan demikian, lingkungan sekitar tidak akan digeluti lagi dengan rasa takut.




Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/13/2243325/Polisi.Kesulitan.Cegah.Peredaran.Senjata.Api.Ilegal
http://id.voi.co.id/voi-komentar/4177-maraknya-peredaran-senjata-illegal-ancaman-bagi-pihak-keamanan
Dengan penyuntingan dan tambahan 

Selasa, 10 Januari 2012

Lionel Messi is Immortalized as The Name of New Planet



NASA found a new planet which is given the name of Lionelius Messizeus. The name is for respecting that Argentina football player.

Peter Guard said that his team is Lionel Messi fans. That name is also refer to Messi skill such as an alien.
Lionelius Messizeus is located in the centre of Newt Kampf Constellation with coordinate: 41° 22′ 51.2″ N, 2° 7′ 22.19″ E.

Lionel Messi Dibadikan Sebagai Nama Planet





NASA telah memberi nama planet yang baru ditemukan, dengan nama: 'Lionelius Messizeus', nama itu untuk menghormati pesepakbola asal Argentina tersebut. 

Peter Guard (NASA) mengatakan bahwa timnya adalah Fans Leo Messi dan nama itu mengacu pada Messi karena "kualitasnya yang menyerupai alien". Planet Lionelius Messizeus terletak di pusat Newt Kampf Constellation dengan koordinat: 41° 22′ 51.2″ N, 2° 7′ 22.19″ E.